Recent Posts

Cerita Horor Genderuwo Suka Ngerokok di Atas Gedung Film oleh - duniahantu.xyz

Halo sahabat selamat datang di website duniahantu.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Cerita Horor Genderuwo Suka Ngerokok di Atas Gedung Film oleh - duniahantu.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

MOJOK.CO â€" Cerita horor ini terjadi di rumah saya. Sebuah rumah yang dahulu menjadi bagian dari gedung film. Sebuah gedung yang ternyata dihuni genderuwo yang suka merokok.

Cerita horor ini terjadi di rumah saya…

Jadi, rumah yang ditempati orang tua saya sekarang itu dulunya bagian dari gedung film. Lorong bagian samping yang sekarang jadi garasi dan ruang tamu dulunya tempat penjualan karcis. Sementara itu, terusan dapur dulunya kamar pengoperasian film, lalu halaman belakang merupakan teater utama tempat pemutaran film.

Gedung film tersebut adalah hasil usaha dari kakek bersama temannya. Setelah kakek meninggal dan tidak ada yang cakap meneruskan usaha itu, maka gedungnya ditutup.

Yang tersisa dari renovasi dan tidak berubah sampai sekarang cuma tembok tinggi tempat layar pemutaran film. Temboknya memang tinggi dan karena itu pula orang tua saya nggak pernah berniat merobohkannya. “Halah, buat pagar belakang rumah.” jawab orang tua saya.

Sebuah kesalahan, Bung dan Nona. Tembok itu jadi tempat favorit buat nongkrong genderuwo.

Jadi, di belakang tembok itu ada tanah kosong sekitar 2 sampai 3 meter yang pernah dibiarkan begitu saja. Tanah kosong itu lantas ditutup menggunakan pagar oleh tetangga dan dipinjam untuk memelihara ayam.

Kalau mau lewat dan naik ke atas tembok itu bakalan ribet banget. Udah ngelewatin pagar, lewatin ayam-ayam yang ceriwisnya minta ampun, dan terakhir naik tembok yang butuh lebih dari satu tangga.

Udah ya dari sini fix, orang nggak ada kerjaan pun bakal males naik-naik ke atas sana. Pemandangannya cuma pabrik. Kalau jatuh, mampus pula, malah jadi temennya genderuwo di sana.

Kejadian di cerita horor ini terjadi ketika saya masih kecil, mungkin SD kalau nggak awal-awal SMP. Pak Is (adiknya kakek yang paling bontot) sering main ke belakang rumah. Beliau suka menyapa tetangga di bagian belakang, ngopi atau main gaple sama pegawai dari Pengairan. Orangnya memang ramah.

Cuma, Pak Is ini biasanya ndablek. Kalau udah kelewat malam, dia males muter ke depan tapi pulang lewat pintu halaman belakang yang terletak di samping tembok layar tadi. Dia akan ngelewatin pekarangan tak berpenghuni yang isinya itu bambu kuning, bunga melati, kamboja, pohon kelapa, pisang, serta mangga.

Udah kayak tempat uji nyali, kan? Lokasi yang cocok banget jadi latar tempat cerita horor.

Kalau saya demitnya, Pak Is udah saya bikin klenger itu. Manusia lucknut, udah sendirian masih berani-beraninya masuk kandang enemy.

Oh iya sedikit tambahan, permukiman tempat kami tinggal memang “begitu”. Jadi yang depan menghadap jalan, sedangkan yang belakang menghadap sungai. Pintu halaman belakang tadi letaknya di sebelah kiri dan terpisah dari tembok layar, di depan pekarangan yang isinya udah saya jelasin tadi.

Kembali ke Pak Is….

Pak Is ini suatu kali berhenti bersikap sok asik dan sok pemberani setelah ketemu genderuwo yang sering nongki di atas tembok layar sambil rokoan.

Dari jauh, bentukannya kayak orang lagi ngerokok biasa. Karena sering menampakan diri setelah petang, jadi cuma keliatan rokok sama kepulan asapnya aja. Anak senja banget ini genderuwonya.

Kenapa saya bisa tau?

Sebenarnya saya nggak sengaja pernah ngeliat genderuwo itu Ketika buang sampah dan ketika nutup pintu belakang rumah. Selebihnya nggak pernah.

Sehabis maghrib, sebagai anak baik, kerjaan saya cuma rebahan aja. Cuma saat itu, saya udah ngira itu bukan manusia. Jadi ketika Pak Is ini bikin geger dengan cerita horor pertobatan dari “anak kelayapan” menjadi “anak rumahan”, saya sebenarnya udah tau alasannya.

Ternyata dugaan saya benar. Suatu kali ketika main ke rumah, Pak Is ini memberikan wejangan ke saya, “Dek, kalau pas ke belakang, sorean atau habis maghrib gitu, terus lihat ada yang kayak ngerokok di atas tembok, pintu rumah langsung ditutup aja, nggak usah main ke belakang. Di dalem rumah aja.”

“Ada yang ngerokok pak? Oh nggih, saya nggak main ke belakang kok.” jawab saya sambil pura-pura pasang wajah kaget.

“Ibu sama bapakmu dikasih tau juga, pokoknya kalau ada, mending masuk rumah aja. Ndak usah aneh-aneh.”

“Inggih, ada apa sih pak?”

Saya masih mencoba mencari tahu. Pikir saya kala itu, masa udah diapa-apain masih diem-diem aja. Speak up lah, gantian si demit dighibahin, kek. Lemah amat jadi human.

“Yang ndek situ jahat dek. Hati-hati aja,” suara Pak Is melemah.

Nah loh, maksud saya itu nggak gini bapak, ceritain jeleknya aja, bukan kasih tau kelakuannya gimana. Karena yakin cerita horor Pak Is bakal terlalu mengerikan, saya segerakan diri untuk masuk ke kamar. Malah orang tua saya yang jadi pendengarnya.

Tapi memang bejonya saya aja sih, saat kebelet dan hendak ke kamar mandi, ternyata Pak Is ini belum selesai bercerita dan saya malah mendengar bagian yang paling epik dari cerita horor ini. Simak baik-baik:

Pak Is mulai bagian paling epik dari cerita horor ini dengan:

“Hiii! Amit-amit. Jangan sampai kalian ngalamin!”

Lalu, dia melanjutkan:

“Badanku ini kayak dikasih beban, berat banget sampai nggak kuat berdiri, tiap jalan udah mau ambruk aja. Kok kaki ini, lho, tiba-tiba kayak nempel di tanah, nggak bisa gerak, tak angkat aja nggak bisa. Nafas itu udah mulai ngos-ngosan, sangking beratnya. Pikirku udah mati ini, pasti mati ini….”

“Berani nggak berani ya tetap tak paksakan buat nengok ta.”

“Lha kok pas tak lihat, yang di atas itu (hantunya), tiba-tiba ke bawah, kayak ngerangkak turun dari tembok, tapi cepet banget. Pas tiba ndek tanah, ukurannya ini jadi kayak separuhnya tembok, lebih mungkin. Guede hitem gitu. Wes gliyeng ae aku.”

“Ealah yang paling ngenes itu kok ya dia jalan ke arahku. Terus pas jalan itu, tanah berasa getar. Dem…dem…dem…modelannya kayak orang marah atau ngamuk gitu. Hmm, kapok, pikirku kapok tenan iki, Gusti. Pas ndek depanku dia ini kayak melotot sambil geram. Jaraknya itu paling tinggal selangkah aja. Aku udah bener-bener koploh banget waktu itu. Terus lha kok dia malah ngomong, suaranya gede banget.”

“Nyapo Koe Rene!”

Setelah Pak Is berhenti bicara, tiba-tiba aroma rokok kretek lewat di hidung saya….

BACA JUGA Setan Kepala Manusia yang Berjatuhan dari Pohon Sukun atau tulisan bau menyan lauinnya di rubrik MALAM JUMAT.

Itulah tadi informasi dari judi slot mengenai Cerita Horor Genderuwo Suka Ngerokok di Atas Gedung Film oleh - duniahantu.xyz dan sekianlah artikel dari kami duniahantu.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Tuesday, July 28, 2020

Cerita Horor Genderuwo Suka Ngerokok di Atas Gedung Film oleh - duniahantu.xyz

Halo sahabat selamat datang di website duniahantu.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Cerita Horor Genderuwo Suka Ngerokok di Atas Gedung Film oleh - duniahantu.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

MOJOK.CO â€" Cerita horor ini terjadi di rumah saya. Sebuah rumah yang dahulu menjadi bagian dari gedung film. Sebuah gedung yang ternyata dihuni genderuwo yang suka merokok.

Cerita horor ini terjadi di rumah saya…

Jadi, rumah yang ditempati orang tua saya sekarang itu dulunya bagian dari gedung film. Lorong bagian samping yang sekarang jadi garasi dan ruang tamu dulunya tempat penjualan karcis. Sementara itu, terusan dapur dulunya kamar pengoperasian film, lalu halaman belakang merupakan teater utama tempat pemutaran film.

Gedung film tersebut adalah hasil usaha dari kakek bersama temannya. Setelah kakek meninggal dan tidak ada yang cakap meneruskan usaha itu, maka gedungnya ditutup.

Yang tersisa dari renovasi dan tidak berubah sampai sekarang cuma tembok tinggi tempat layar pemutaran film. Temboknya memang tinggi dan karena itu pula orang tua saya nggak pernah berniat merobohkannya. “Halah, buat pagar belakang rumah.” jawab orang tua saya.

Sebuah kesalahan, Bung dan Nona. Tembok itu jadi tempat favorit buat nongkrong genderuwo.

Jadi, di belakang tembok itu ada tanah kosong sekitar 2 sampai 3 meter yang pernah dibiarkan begitu saja. Tanah kosong itu lantas ditutup menggunakan pagar oleh tetangga dan dipinjam untuk memelihara ayam.

Kalau mau lewat dan naik ke atas tembok itu bakalan ribet banget. Udah ngelewatin pagar, lewatin ayam-ayam yang ceriwisnya minta ampun, dan terakhir naik tembok yang butuh lebih dari satu tangga.

Udah ya dari sini fix, orang nggak ada kerjaan pun bakal males naik-naik ke atas sana. Pemandangannya cuma pabrik. Kalau jatuh, mampus pula, malah jadi temennya genderuwo di sana.

Kejadian di cerita horor ini terjadi ketika saya masih kecil, mungkin SD kalau nggak awal-awal SMP. Pak Is (adiknya kakek yang paling bontot) sering main ke belakang rumah. Beliau suka menyapa tetangga di bagian belakang, ngopi atau main gaple sama pegawai dari Pengairan. Orangnya memang ramah.

Cuma, Pak Is ini biasanya ndablek. Kalau udah kelewat malam, dia males muter ke depan tapi pulang lewat pintu halaman belakang yang terletak di samping tembok layar tadi. Dia akan ngelewatin pekarangan tak berpenghuni yang isinya itu bambu kuning, bunga melati, kamboja, pohon kelapa, pisang, serta mangga.

Udah kayak tempat uji nyali, kan? Lokasi yang cocok banget jadi latar tempat cerita horor.

Kalau saya demitnya, Pak Is udah saya bikin klenger itu. Manusia lucknut, udah sendirian masih berani-beraninya masuk kandang enemy.

Oh iya sedikit tambahan, permukiman tempat kami tinggal memang “begitu”. Jadi yang depan menghadap jalan, sedangkan yang belakang menghadap sungai. Pintu halaman belakang tadi letaknya di sebelah kiri dan terpisah dari tembok layar, di depan pekarangan yang isinya udah saya jelasin tadi.

Kembali ke Pak Is….

Pak Is ini suatu kali berhenti bersikap sok asik dan sok pemberani setelah ketemu genderuwo yang sering nongki di atas tembok layar sambil rokoan.

Dari jauh, bentukannya kayak orang lagi ngerokok biasa. Karena sering menampakan diri setelah petang, jadi cuma keliatan rokok sama kepulan asapnya aja. Anak senja banget ini genderuwonya.

Kenapa saya bisa tau?

Sebenarnya saya nggak sengaja pernah ngeliat genderuwo itu Ketika buang sampah dan ketika nutup pintu belakang rumah. Selebihnya nggak pernah.

Sehabis maghrib, sebagai anak baik, kerjaan saya cuma rebahan aja. Cuma saat itu, saya udah ngira itu bukan manusia. Jadi ketika Pak Is ini bikin geger dengan cerita horor pertobatan dari “anak kelayapan” menjadi “anak rumahan”, saya sebenarnya udah tau alasannya.

Ternyata dugaan saya benar. Suatu kali ketika main ke rumah, Pak Is ini memberikan wejangan ke saya, “Dek, kalau pas ke belakang, sorean atau habis maghrib gitu, terus lihat ada yang kayak ngerokok di atas tembok, pintu rumah langsung ditutup aja, nggak usah main ke belakang. Di dalem rumah aja.”

“Ada yang ngerokok pak? Oh nggih, saya nggak main ke belakang kok.” jawab saya sambil pura-pura pasang wajah kaget.

“Ibu sama bapakmu dikasih tau juga, pokoknya kalau ada, mending masuk rumah aja. Ndak usah aneh-aneh.”

“Inggih, ada apa sih pak?”

Saya masih mencoba mencari tahu. Pikir saya kala itu, masa udah diapa-apain masih diem-diem aja. Speak up lah, gantian si demit dighibahin, kek. Lemah amat jadi human.

“Yang ndek situ jahat dek. Hati-hati aja,” suara Pak Is melemah.

Nah loh, maksud saya itu nggak gini bapak, ceritain jeleknya aja, bukan kasih tau kelakuannya gimana. Karena yakin cerita horor Pak Is bakal terlalu mengerikan, saya segerakan diri untuk masuk ke kamar. Malah orang tua saya yang jadi pendengarnya.

Tapi memang bejonya saya aja sih, saat kebelet dan hendak ke kamar mandi, ternyata Pak Is ini belum selesai bercerita dan saya malah mendengar bagian yang paling epik dari cerita horor ini. Simak baik-baik:

Pak Is mulai bagian paling epik dari cerita horor ini dengan:

“Hiii! Amit-amit. Jangan sampai kalian ngalamin!”

Lalu, dia melanjutkan:

“Badanku ini kayak dikasih beban, berat banget sampai nggak kuat berdiri, tiap jalan udah mau ambruk aja. Kok kaki ini, lho, tiba-tiba kayak nempel di tanah, nggak bisa gerak, tak angkat aja nggak bisa. Nafas itu udah mulai ngos-ngosan, sangking beratnya. Pikirku udah mati ini, pasti mati ini….”

“Berani nggak berani ya tetap tak paksakan buat nengok ta.”

“Lha kok pas tak lihat, yang di atas itu (hantunya), tiba-tiba ke bawah, kayak ngerangkak turun dari tembok, tapi cepet banget. Pas tiba ndek tanah, ukurannya ini jadi kayak separuhnya tembok, lebih mungkin. Guede hitem gitu. Wes gliyeng ae aku.”

“Ealah yang paling ngenes itu kok ya dia jalan ke arahku. Terus pas jalan itu, tanah berasa getar. Dem…dem…dem…modelannya kayak orang marah atau ngamuk gitu. Hmm, kapok, pikirku kapok tenan iki, Gusti. Pas ndek depanku dia ini kayak melotot sambil geram. Jaraknya itu paling tinggal selangkah aja. Aku udah bener-bener koploh banget waktu itu. Terus lha kok dia malah ngomong, suaranya gede banget.”

“Nyapo Koe Rene!”

Setelah Pak Is berhenti bicara, tiba-tiba aroma rokok kretek lewat di hidung saya….

BACA JUGA Setan Kepala Manusia yang Berjatuhan dari Pohon Sukun atau tulisan bau menyan lauinnya di rubrik MALAM JUMAT.

Itulah tadi informasi dari daftar slot online mengenai Cerita Horor Genderuwo Suka Ngerokok di Atas Gedung Film oleh - duniahantu.xyz dan sekianlah artikel dari kami duniahantu.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Monday, July 27, 2020

Karma: Ketika Kunci Disembunyikan Sosok Cantik Penunggu Ruang Osis oleh - duniahantu.xyz

Halo sahabat selamat datang di website duniahantu.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Karma: Ketika Kunci Disembunyikan Sosok Cantik Penunggu Ruang Osis oleh - duniahantu.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

MOJOK.CO â€" Saya dan Urya sepakat untuk nggak lagi pacaran di ruang Osis. Pindah ke warung makan depan sekolah. Sambil makan bakso kayaknya lebih aman.

Perkenalkan nama saya Ita. Cerita ini adalah kisah saya saat masih duduk di bangku SMA kelas X. Remaja, seorang remaja yang selalu yang ingin mencoba hal baru. Salah satunya, pacaran.

Saat itu, untuk kali pertama, saya jatuh cinta kepada seorang kakak kelas, namanya Urya. Sebenarnya, kami sudah saling mengenal sejak sekolah dasar. Namun, setelah tamat SD, Urya melanjutkan ke SMP B, sedangkan saya ke SMP A. Kami dipertemukan lagi ketika SMA.

Urya adalah kakak kelas yang juga anggota Osis, sedangkan saya adalah anak baru. Sejak awal masuk di SMA itu, saya sudah mulai jatuh cinta dengan Urya. Dia adalah kakak Osis paling baik dan kalem ketika ospek.

Di hari terakhir ospek, ada tugas membuat 1 surat benci dan 1 surat cinta untuk diberikan ke kakak Osis. Saya berikan surat cinta itu kepada Urya. Setelah ospek selesai, ternyata Urya merespons surat saya. Betapa senang dan berbunga-bunganya hati ini.

Awalnya, kami memulai komunikasi lagi di Facebook, hingga akhirnya saling bertukar nomor hape. Saya senang sekali.

Sejak bertukar nomor hape, setiap hari kami berkomunikasi lewat sms. Sekadar menanyakan kabar, kegiatan sekolah, sampai kegiatan di rumah. Sebenarya, kami jarang ketemu di sekolah karena dia anggota Osis yang super sibuk dengan kegiatannya. Jadi, saya mencari cara biar bisa sering-sering deket sama dia.

Suatu saat, ada perekrutan calon anggota Osis. Ini adalah kesempatan bagi saya untuk ikut bergabung. Setelah melalui seleksi panjang, saya bisa bergabung menjadi anggota baru. Setelah melalui penggodokan dan pelantikan, saya resmi menjadi anggota Osis.

Kegiatan kami di Osis memang sangat banyak. Bahkan kami sering meninggalkan jam pelajaran demi menyukseskan kegiatan-kegiatan sekolah. Berkat kegiatan yang begitu banyak itu, saya jadi semakin sering ketemu Urya di ruang Osis.

Hingga akhirnya, Urya mengungkapkan rasa cintanya kepada saya.

“Kita sudah lama saling kenal, kamu mau jadi pacar kakak?”

“Yaa…,” tanpa banyak mikir, saya jawab dengan gembira.

Setelah resmi pacaran, saya dan Urya sering menghabiskan waktu bersama, terutama di ruang Osis. Saya dan Urya memang sering pulang paling akhir. Jadi, kunci ruangan itu pun kami yang pegang. Dan….kayaknya penunggu di ruang itu nggak suka ada yang pacaran di sana, deh.

Sudah banyak senior kami yang cerita kalau ruangan itu memang ada penunggunya. Katanya, yang menunggu ruangan itu adalah sesosok perempuan cantik dengan rambut panjang.

Suatu ketika, setelah bel pulang sekolah berbunyi, saya dan Urya singgah ke ruang Osis untuk rapat pentas seni. Setelah selesai rapat, semua teman-teman langsung pulang. Namun berbeda dengan saya dan Urya, yang ingin menghabiskan waktu berdua saja. Padahal saat itu sudah pukul 17.30 petang.

Ketika asyik mengobrol di ruangan itu, tiba-tiba ada yang memanggil saya.

“Ita…Ita…pulang.”

Suara itu mirip sekali sama suara kakak sepupu saya, Ida, yang juga anggota Osis. Saya kaget, dong, karena Ida sudah pulang duluan sejak tadi.

“Kakak dengar suara itu?” Tanya saya kepada Urya.

“Iya, dengar. Kamu disuruh pulang sama Ida. Tapi….”

“Iya, Ida udah pamit pulang sejak tadi, kan,” saya memotong kalimat Urya yang belum selesai diucapkan.

Sedetik kemudian, kami sama-sama berdiri dan melongok keluar ruang Osis. Kami berharap melihat Ida di sana. Namun, sekeliling ruang itu sepi saja. Degdegan yang saya rasakan semakin kencang. Saya meraba-raba ke kantong tas sebelah kanan, mencari kunci ruangan Osis. Saya biasa menyimpan kunci itu di sana. Namun, entah kenapa, saya tidak bisa menemukan kunci itu.

“Coba dicari di kantong sebelah,” kata Urya ketika melihat saya panik merogoh kantong tas.

“Udah, enggak ada juga. Biasanya ada di sebelah kanan, Kak.”

Urya malah ikut panik. Ikut merogoh kantong di tasnya. Padahal, kami tahu, kalau kunci ruang Osis selalu saya pegang. Tidak mungkin tiba-tiba ada di tas Urya. Semakin panik, saya menelepon Ida dan menceritakan kejadian yang kami alami. Benar, Ida sudah sampai rumah.

Bukannya ngasih saran, Ida malah ikut panik. “Kalian, sih, malah pacaran di ruang Osis, sampai mau malam, lagi.”

Ketika Ida sedang bersemangat memarahi saya, suara itu terdengar lagi….

“Pulang….”

Sebetulnya suara itu lirih saja, tetapi kok rasanya dekat sama telinga saya. Urya, di belakang saya diam mematung.

“Nggak usah dikunci, deh. Yuk, tinggal pulang saja.” Saya, yang nggak bisa menemukan solusi lain menurut saja. Pulang, saya sudah takut setengah mati.

Keesokan paginya, seorang kakak kelas datang menghampir saya di kelas.

“Ta, pinjam kunci ruang Osis. Mau ngambil poster pensi.”

“Duh, kuncinya ilang, Kak,” kata saya terbata-bata sambil takut dimarahi.

“Yah, Repot, nih. Kok bisa ilang, sih?” Tanya kakak kelas.

“Nggak tahu, Kak. Biasanya, tuh, saya simpan di sini,” kata saya sambil merogoh kantong tas sebelah kanan, “tapi kok nggak ad….”

Saya terdiam.

Pagi itu, ketika merogoh kantong tas sebelah kanan, kunci ruang Osis ada di sana. Padahal, petang kemarin, saya dan Urya sudah merogoh kantong itu beberapa kali.

“Kok diem aja, Ta. Gimana, nih….”

“Kak, kuncinya ada,” jawab saya sembari mengangsurkan kunci itu ke tangan kakak kelas.

“Duh, dasar. Nggak jelas kamu,” kata kakak kelas sambil berlalu pergi.

Saya nggak peduli bel masuk kelas berbunyi. Saya pergi ke kelas Urya untuk bercerita. Setelahnya, saya dan Urya sepakat untuk nggak lagi pacaran di ruang Osis. Pindah ke warung makan depan sekolah. Sambil makan bakso kayaknya lebih aman.

BACA JUGA Ketika Kuntilanak Menyamar Jadi Santri di Pondok Pesantren atau pengalaman dikerjai kuntilanak lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Itulah tadi informasi dari idn poker terpercaya mengenai Karma: Ketika Kunci Disembunyikan Sosok Cantik Penunggu Ruang Osis oleh - duniahantu.xyz dan sekianlah artikel dari kami duniahantu.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Sunday, July 26, 2020

Pocong Luna Maya Bikin Saya Pingsan di Kamar Horor oleh - duniahantu.xyz

Halo sahabat selamat datang di website duniahantu.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Pocong Luna Maya Bikin Saya Pingsan di Kamar Horor oleh - duniahantu.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

MOJOK.CO â€" Seharusnya, saya menolak permintaan untuk menginap di rumah teman saya itu. Sebuah kesalahan yang berujung pertemuan dengan pocong Luna Maya.

Karena sudah saya anggap sebagai sahabat, meskipun agak aneh perilakunya, saya jadi gampang maklum. Namun, ada kalanya pemakluman menjadi sesuatu yang tak melulu dianggap biasa.

Kadang, saya masih sering ketakutan jika sedang bersamanya. Terutama ketika malam hari. Ketika suatu malam yang tidak terduga, saya harus rela melihat pocong yang wajahnya mirip Luna Maya.

Suatu kali, saya dan dia (M)â€"semoga kamu masih ingat sama tokoh M iniâ€"diminta tolong untuk menunggu sebuah rumah oleh teman kami, sebut saja I. Kebetulan, I adalah teman kuliah kami. Kami berkenalan dengannya saat satu kelompok presentasi. Sejak saat itu, karena kami bodoh dan dia pintar, kami jadi sering meminta bantuan untuk mengerjakan tugas. Apa pun tugasnya.

Oleh karena itu, ketika kami diminta tolong untuk menginap di sana, kami bersedia. Toh, sebuah kamar khusus sudah disiapkan. Kamar khusus itu pun sebenarnya memang diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin menginap. Apalagi, I memang lebih suka ditemani banyak orang karena sendirian di rumah. Kedua orang tuanya ada di luar kota.

Ruangan tersebut didesain khusus bagi yang menginap. Sudah tersedia kasur, kipas angin, televisi, dan PlayStation. Tak ketinggalan disediakan minuman dingin maupun hangat hingga makanan berat. Rasanya sungguh menyenangkan. Dalam kamus kami, tidur di sana adalah perbaikan gizi.

Bukan tanpa sebab kami (sering) diminta ke sana. Katanya, ruangan tersebut cukup horor. Yang dimaksud horor, tiap pukul 01 dini hari, sering ada makhluk yang berkidung. Tak jelas racauan. Yang jelas, jika didengar, suaranya sangat syahdu.

Sebenarnya, ketika diberitahu tentang cerita tersebut, saya takut. Jujur saja, mendengar suara seperti itu lebih menyeramkan daripada melihat sosoknya. Sebab, kalau sudah melihat sosoknya, saya pingsan. Nah, kalo hanya mendengar, rasa penasaran justru kian membuncah.

Tapi, saat itu, tak ada pilihan lain. Apalagi tanggal tua. Mana ada lelaki yang menolak jika disuguhkan paket lengkap seperti budget hotel begitu. Toh, jikalau saya benar-benar bertemu “dengannya”, ada si M, yang mampu mengendalikan jalannya perbincangan.

Sayang, dugaan saya keliru….

Kami tiba di sana pukul 10 malam. Jalanan agak sepi. Maklum, daerah ini, meski dekat bandara, cukup jauh dari kota. Sehingga, jika telah memasuki pukul 08 malam, yang tersisa di pinggir jalan hanya dua aktivitas. Pedagang nasi goreng dan sate ayam keliling.

M mengetuk garasi berulang kali. Sembari menunggu, mata saya awas terhadap sekeliling. Agaknya memang horor. Lampu teras menggunakan bohlam warna kuning. Sudah begitu, sepertinya berkekuatan lima watt. Suasana jadi terasa suram.

I membuka garasi. Kami dipersilakan masuk. Menyelinap di antara dua mobil, satu sepeda, dan satu sepeda motor.

Kemudian, kami mengikuti gerak-gerik I. Dia belok kiri, dan menaiki tangga.

“Satu-satu, ya.”

Tangga tersebut hanya muat untuk satu orang. I di depan, M di tengah, saya paling belakang. Di lorong tangga ini tak ada lampu yang terpasang. Seperti merambat, tangan kanan saya bersandar pada dinding.

Saya sampai di ruangan yang boleh dibilang agak besar. Di sisi kanan dekat kamar mandi ada vas bunga. Di sebelahnya, terdapat kaca yang ditutup gorden. Saya dan M diminta menempati ruangan di seberang kamar mandi.

Ukuran kamar 3×3. Ukuran yang pas untuk 2 sampai 3 orang. Kalau mau dempet-dempetan, sekadar main PS, enam orang masih cukup. Kami duduk di depan TV.

“Kalau butuh sesuatu, langsung ke bawah saja, ambil di kulkas,” kata I sebelum kembali ke kamarnya.

Rasanya menyenangkan, punya teman seperti itu. Tinggal ambil, makan dan minum, beres. Tapi, di balik itu, ada syaratnya.

Jangan tidur sebelum subuh!

Saya dan M berusaha menahan kantuk dengan minum kopi. Sayang, kopi yang diminum kami tandas terlalu cepat. Saya meminta tolong M untuk membuatkan kopi di dapur.

Dengan sigap, M ke bawah. Meninggalkan saya sendirian di atas. Tak lama, lonceng di jam dekat garasi berbunyi. Artinya, pukul 12 malam. Sejam lagi untuk merasakan sensasi uji nyali.

Pukul 00.25. Karena lama menunggu, diam-diam saya beranjak dari kasur kemudian menuruni tangga. Ketika berada di tangga nomor tiga bagian bawah, M berteriak.

“Mod, hati-hati. Kalau turun, agak geser ke kiri!”

Saya tersentak dengan ucapannya. Kepala saya menunduk seperti ruku’ (dalam salat), lalu menoleh ke kanan, seraya memastikan bahwa semuanya baik-baik saja.

“Haaaaahhhhhh!”

Ada yang bernapas di sebelah kanan saya. Bau. Persis di dekat telinga! Mendadak bulu kuduk saya merinding. Cepat-cepat saya turun, dan lari ke arah dapur.

Sampai di sana, saya melihat M jongkok di atas dipan. Persis seperti posisi orang sedang boker.

“Kamu ngapain di situ?”

“Sssstttt, jangan berisik.”

M menaruh telunjuk kanan di bibirnya. Saya diam dan menanti perintah selanjutnya.

“Kamu pelan-pelan ke sini, ya. Dengerin baik-baik, Mod.”

Saya melangkah sangat pelan. Hampir tidak bersuara. Tangan kanan sengaja saya taruh di bagian belakang telinga seraya menajamkan pendengaran.

“Ihihihi….”

Mak deg.

Terdengar suara tawa kecil di area dapur. Saya tak begitu jelas melihat sosoknya. M hanya tertawa. Sejurus kemudian, dia mengeluarkan kalimat yang membuat saya antara berteriak, menangis, sekaligus tersenyum aneh.

“Ini pocongnya lagi cantik. Sekarang berubah jadi Luna Maya.”

Mata saya hampir tak berkedip mendengar penjelasan M.

“Jangan lari. Pocongnya suka berubah-ubah wajahnya.”

Mendengar kata pocong, dalam benak saya seperti Pocong Mumun. Seram dan membuat saya tak bisa tidur. Bubuk kopi dan gula yang jaraknya hanya selompatan katak, tidak jadi saya raih. Saya balik kanan, dan bergegas kembali ke kamar.

Saat hendak kembali ke atas, M kembali mengucapkan kalimat yang lagi-lagi membuat saya hampir mengompol.

“Ingat, kalau naik tangga, agak geser ke kanan, takutnya kamu injak kepala adik si pocong.”

Saya lemas. Kaki saya seperti terkunci. Namun, karena ingin segera masuk kamar, dengan sekali umak-umik yang saya bisa, kaki mau melangkah.

Kanan, kiri, kanan, kiri, kanan, kiri, begitu sampai tiba di atas. Memalingkan wajah ke tangga. Aman. Menoleh ke arah jendela. Aman juga.

Saya membuka kamar sembari mengatur nafas. Meraih knop pintu dan memutarnya ke kiri. Cklek!

“Kok lama, Mod? Dari mana aja? Kopinya keburu dingin.”

Kalimat itu diucapkan oleh M. Teman saya, yang tadi pamit turun ke dapur buat bikin kopi. Teman, yang saya temui ada di dapur lagi ngobrol sama pocong yang mirip Luna Maya. Gimana ceritanya dia sudah duduk di depan layar tv sambil megang stik PS!

Ini mana yang M beneran! Yang lagi di dapur atau yang lagi main PS di depan saya! Seharusnya saya sadar sejak awal kalau menginap di kamar horor ini bakal banyak kejadian aneh. Tapi saat itu, justru karena sangat ketakutan, saya jadi bingung harus gimana.

Yang bisa saya lakukan cuma menggeser kaki kiri. Maju, lalu menjatuhkan lutut kiri, lalu kanan dan duduk bersimpuh. Posisi saya berada di belakang kiri. Kepala saya tetap menunduk karena takut terjadi apa-apa. Tangan kanan saya berusaha meraih pundaknya, tapi entah kenapa saya urungkan.

“Heh, kamu…tadi…kopi,” terbata-bata saya mencoba bertanya.

“Kopi? Tadi mau bikin, eh, kamu malah turun.”

“Kamu ke bawah bikin kopi, eh, pas disamperin malah ngomong yang enggak-enggak. Terus kamu ada di sini. Yang di dapur itu siapa!”

”Ngomong apa? Pocong? Kayak yang di layar itu?”

Tangan kirinya menunjuk layar. Pelan tapi pasti, saya membuka mata dan melirik ke arah layar. Dan mulut saya terperangah.

“Mirip Luna Maya.”

Glek. Muncul racauan. Entah dari layar atau kamar. Pokoknya memenuhi ruangan. Yang jelas, esoknya saya bangun kesiangan. Kata I, dari kamarnya terdengar teriakan kencang.  Lalu, dia melihat saya terkapar.

Saat sarapan, I bertanya. “Nyenyak kan tidurnya?”

Dengan singkat, saya hanya menjawab, “Ndogmu!!!”

BACA JUGA Ditemani Tidur Pocong yang Mata Kirinya Hampir Copot atau kisah ditemui hantu jadi-jadian di rubrik MALAM JUMAT.

Itulah tadi informasi dari agen judi poker mengenai Pocong Luna Maya Bikin Saya Pingsan di Kamar Horor oleh - duniahantu.xyz dan sekianlah artikel dari kami duniahantu.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Friday, July 24, 2020

Genderuwo Sableng! Bukan Nakut-nakutin, Malah Mencuri Sisa Makanan oleh - duniahantu.xyz

Halo sahabat selamat datang di website duniahantu.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Genderuwo Sableng! Bukan Nakut-nakutin, Malah Mencuri Sisa Makanan oleh - duniahantu.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

MOJOK.CO â€" Dasar genderuwo sableng! Sudah sukanya nyuri sisa makanan, bikin berantakan dapur, bikin orang jantungan panik, eh masih nguntit ke rumah saya lagi.

Saya tak pernah mengira kalau rumah baru teman saya, yang tampak anggun dan asri itu ternyata dihuni sesosok genderuwo.

Ceritanya sekitar dua tahun yang lalu, pas kebetulan saya menginap di sana dan beradu pandang sama genderuwo. Jadi, waktu itu, teman saya bernama Aji baru pulang dari Malaysia. Uang hasil merantau digunakan untuk membeli rumah di Rembang.

Dibilang gede dan mewah sih, nggak. Tapi rumah yang dibeli Aji, kalau menurut saya, lumayan asik. Letaknya paling ujung dan dekat dengan area perkebunan. Rasanya nyaman dan cocok buat relaksasi. Jauh dari ingar-bingar kebisingan. Cuma ada genderuwo saja di sana. Sisanya, oke, sih.

“Aku belikan rumah dulu, Su, biar nanti pas nikah udah punya rumah sendiri, nggak numpang sama orang tua,” begitu katanya waktu itu.

Ketika rumah tersebut sudah resmi jadi milik Aji, dia langsung mengadakan tasyakuran yang sayangnya saya nggak bisa hadir karena posisi masih ribet di Surabaya. “Wis tho, Ji. Janji aku nanti tetep bakal main ke rumahmu. Nginep berhari-hari, deh,” kilah saya.

Nah, suatu kali, saya berkesempatan membayar janji….

Malam itu, sepulang dari Surabaya, saya memutuskan langsung mampir ke rumah Aji. Memilih istirahat di sana. “Wah, kebetulan, malam ini di rumah juga lagi ada Karyo (teman kami juga),” sambut Aji pas saya kabari lewat telepon.

Begitulah hingga akhirnya saya tiba di rumah Aji sekitar pukul sepuluh malam. Sebenernya capek bukan main karena saya nyetir motor sepanjang lima jam perjalanan, nggak ada boncengan buat gantian. Tapi saya nyoba untuk ikut Aji dan Karyo nimbrung di teras lantai dua dulu, saling lempar gojlokan (candaan) satu sama lain.

Pukul setengah dua belas, mata dan badan saya rasanya sudah nggak bisa diajak kompromi. Saya memutuskan masuk kamar yang ternyata diikuti oleh Aji dan Karyo. Dari sini, saya mulai merasakan ada yang ganjil. Awal mula beradu pandang sama genderuwo sableng!

Sedari merebahkan badan di kasur, saya mendengar ada suara gedebuk orang berjalan di lantai bawah. Suara itu terdengar sangat jelas karena pintu kamar nggak kami tutup. Sesekali juga terdengar gelontangan, orang nyalain kompor, sampai suara kulkas dibuka-tutup.

Oh ya, tak kasih sedikit gambaran desain rumah baru Aji dulu biar nggak bingung. Jadi, rumah Aji yang kecil itu berlantai dua. Lantai satu terdiri dari ruang tengah, satu kamar, dapur, serta kamar mandi di belakang. Lantai atas ada ruang tengah dan dua kamar. Malam itu kami tidur bareng di kamar dekat tangga (persis di atas dapur).

Semula saya mencoba berpikir positif. “Ah, paling-paling juga tikus.” Tapi, sejak kapan ada tikus bisa buka kulkas dan nyalain kompor? Satu-satunya tikus yang bisa gitu, setahu saya, cuma tikus di film Ratatouille.

“Ji, Ji, bangun, Ji!” Karena makin ngeri, saya mencoba menggoyang-goyang tubuh Aji yang sudah pulas. “Yo, Karyo, ada suara orang di bawah, Yo. Ada maling, Yo.”

Bedebah betul, Aji dan Karyo nggak membuka mata sama sekali. “Udah, biarin aja, udah biasa kayak gitu. Tinggal tidur aja,” hanya itu yang Aji ucapkan. Setelahnya, mereka ngorok lagi.

Saya berniat menutup pintu kamar, tapi urung saya lakukan, cuma buat mastiin kalau suara itu bakal hilang dengan sendirinya.

Tapi saya keliru. Suara gelontangan justru kian menjadi-jadi. Baiklah, akhirnya saya putuskan untuk turun memeriksa. Saya menuruni tangga dengan perlahan. Kaki saya sudah gemetar hebat.

Dan saat sudah sampai di bawah, naudzubillah, saya melihat dalam keremangan dapur ada sosok hitam besar sedang berdiri di depan kompor yang di atasnya ada dandang berisi cumi sisa makan malam kami tadi.

Tangan kanannya mengais-ngais dandang dan melahap cumi tersebut dengan buas. Sekarang sekujur tubuh saya ikut gemetar hebat.

Dengan tertatih saya mencoba balik lagi ke atas. Tapi sial, tanpa sengaja tangan saya menyentuh tombol lampu dapur di dinding dekat tangga. Alhasil, dapur Aji jadi terang dan genderuwo itu menengok ke arah saya.

Adu pandang antara genderuwo sableng dengan saya tak terelakkan lagi. Ya Allah, matanya bulat besar, merah menyala. Taringnya panjang dan tubuhnya penuh bulu.

Dengan langkah berat saya berusaha berlari ke atas. “Genderuwo asuuu!!!” Saya kalap berteriak saat gendruwo itu berjalan mendekat ke arah saya. Dan tiba-tiba sosok itu hilang begitu saja, dengan menyisakan dapur Aji yang berantakan.

“Apa nggak kamu panggilin orang pinter, Ji? Hajingan tenan, og,” cecar saya kepada Aji keesokan harinya.

“Wis bola-bali (sudah sering), Su! Kemarin baru aja sama mbahnya Karyo.”

“Hasile?”

“Nggak bisa diusir. Genderuwo itu udah lama tinggal di sini. Mungkin itu yang bikin pemilik rumah dulu juga nggak betah. Terus milih menjualnya.” Kini giliran Karyo yang angkat suara.

“Satu-satunya jalan ya aku yang pindah dari rumah ini, Su, kalau nggak mau diganggu terus,” ucap Aji setengah putus asa. “Aku malah mikir buat jual lagi.”

Sejak hari itu saya memang bertekad nggak nginep ke rumah Aji lagi. Ngeri. Namun nampaknya wajah saya sudah kadung dihafal sama si genderuwo.

Jadi ketika di rumah saya, yang jaraknya jelas-jelas jauh dari ruamh baru Aji, saya mengalami hal serupa. Malam itu, saya terbangun di tengah malam karena kebelet kencing. Eh, pas saya jalan ke belakang, saya melihat ada bayangan orang sedang berdiri sambil mengais-ngais isi dandang.

“Kalau mau mindo (makan lagi) kok nggak dinyalain tho, Pak, lampunya,” ucap saya pede karena mengira itu adalah bapak saya sendiri.

Betapa terkejut saya. Pas lampu dapur saya nyalakan, bajilak, demit ora doyan duwit, saya kembali beradu pandang dengan genderuwo yang sama, bertubuh besar, bermata merah menyala, dan bertaring panjang.

“Aji asuuu!!!” Umpat saya kali ini.

Dasar genderuwo sableng! Saya malah jadi bertanya-tanya, ini model genderuwo macam apa. Nguntit itu biasanya buat nakut-nakutin, eh, ini mencuri sisa makanan. Kasihan kancil, pekerjaannya diembat genderuwo.

BACA JUGA Dikuntit Tangan dan Kaki Genderuwo dari Salah Satu Gunung Keramat atau pengalaman dikuntit demit lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Itulah tadi informasi dari agen judi poker mengenai Genderuwo Sableng! Bukan Nakut-nakutin, Malah Mencuri Sisa Makanan oleh - duniahantu.xyz dan sekianlah artikel dari kami duniahantu.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Thursday, July 23, 2020

Penampakan Kuntilanak Hantu Goyang di Rumah Pakdhe oleh - duniahantu.xyz

Halo sahabat selamat datang di website duniahantu.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Penampakan Kuntilanak Hantu Goyang di Rumah Pakdhe oleh - duniahantu.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

MOJOK.CO â€" Rumah Pakdhe yang awalnya sejuk dan damai itu berubah ketika Si Mbak, hantu kuntilanak, bawa temennya datang untuk meneror: penampakan kuntilanak hantu goyang!

Semua dimulai ketika Pakdhe membeli rumah baru setelah pensiun lalu diteror oleh penampakan kuntilanak.

Selama bekerja, Pakdhe tidak pernah tinggal serumah dengan keluarganya. Pakdhe dan Budhe menempati rumah dinas masing-masing. keduanya tinggal di kota yang berbeda. Anak-anak mereka tinggal bersama Budhe.

Setelah pensiun, Pakdhe memutuskan untuk membeli rumah di dekat rumah dinas Budhe. Rencananya, ketika Budhe pensiun nanti, mereka akan menetap di sana.

Pilihan Pakdhe jatuh ke sebuah rumah yang masih begitu asri. Rumahnya memang bangunan lama, tapi nggak terlihat seperti rumah tua di film horor. Beneran adem, ada kolam kecil di teras depan dan beberapa pohon yang tertata rapi.

Pembagian ruangan rumah ini enak banget. Ada kamar di dalam rumah, ada juga yang di luar. Nggak sumpek. Sinar matahari leluasa masuk lewat jendela. Rumah ini terang banget kalau sinar matahari masuk. Jauh dari kesan suram, apalagi angker.

Pakdhe langsung jatuh cinta dengan rumah ini sejak kali pertama melihatnya. Nggak lama, Pakdhe membeli rumah itu dan langsung tinggal di sana selepas pensiun. Budhe dan kaluarganya juga langsung diboyong. Mereka tinggal di rumah baru yang sejuk dan damai itu.

Namun, suasana damai itu nggak bertahan lama….

Beberapa minggu setelah tinggal di rumah itu, hawa-hawa tidak menyenangkan mulai terasa. Keluarga Pakdhe sadar kalau ternyata di rumah itu ada yang “numpang”, sesosok kuntilanak.

Awalnya cuma terasa hawa yang tidak menyenangkan. Yang awalnya sejuk, mulai terasa dingin. Namun, nggak seberapa lama kemudian jadi panas. Gerah. Nggak lama kemudian, kuntilanak penunggu itu mulai menunjukkan keberadaannya.

Mulai dari suara tawa cekikikan. Setelah suara tawa cekikikan, pintu-pintu di rumah itu mulai terbuka dan tertutup sendiri. Disusul kemudian suara kaki-kaki yang seperti sedang berlarian di lorong rumah. Baru setelah itu, beberapa hari kemudian, penampakan kuntilanak mulai terjadi.

Setelah penampakan kuntilanak terjadi, kami bersepakat memanggilnya dengan sebutan “Si Mbak”. Ya karena kebetulan dia pakai daster putih kusam dan berambut panjang. Beliau adalah hantu sejuta umat, Mbak Kunti yang masih satu angkatan sama hantu lollipop a.k.a pocong.

Berkat penampakan kuntilanak yang terjadi, kami bisa mengenali Si Mbak ini dengan lebih jelas. Dia sedikit kumal. Rambutnya acak-acakan dan kalau ketawa nggak pernah dikondisikan. Kalau di dunia manusia, Si Mbak ini jauh dari kesan mantu idaman, lah.

Penampakan kuntilanak Si Mbak ini random banget. Lagi mood swing, kali. Penampakan kuntilanak bisa terjadi di kamar tidur, kamar mandi, di dapur, lagi main ayunan di teras, kadang malah kedengeran suara ketawa cekikikan itu di atas genteng. Lagi ngejar tikus kali, ya.

Oya, keluarga Pakdhe saya nggak mau pindah dari rumah yang keren itu. lagi pula, keluarga ini pada nggak ada takut-takutnya sama penampakan kuntilanak. Mereka cuma risih aja sama ketawanya yang bisa panjaaang banget kek ular tangga.

Nggak tau kenapa, ketawanya Si Mbak ini nempel banget di telinga. Udah menghindar jauh-jauh aja ketawanya masih nempel. Kalau Kejadian penampakan kuntilanak, sih, dianggap biasa aja. Asal nggak sambil ketawa udah.

Yah, saya sendiri malah kasihan sama Si Mbak. Usahanya buat nakut-nakutin jadi sia-sia. Gimana nggak kasihan. Kalau papasan di lorong, misalnya, Pakdhe cuma bilang, “Halah, gila ini anak. Baru aja mau ke kamar mandi buat boker, udah diketawain.” Mau di kemanakan harga diri Mbak Kunti ini, hah!?

Target penampakan kuntilanak Si Mbak ini adalah orang-orang yang lagi sendirian. Terutama keluarga dari Pakdhe yang nggak tinggal satu rumah dan lagi main ke sana. Semua udah hafal aja sama kebiasaan dan wajah Si Mbak Kunti ini.

Saking hafalnya, kalau mau ke kamar mandi gitu selalu nggak mau sendirian. Bukannya takut, sih, cuma nggak mau aja denger ketawanya Si Mbak ini sendirian.

Lama-kelamaan, kayaknya Si Mbak ini kehilangan kepercayaan diri buat nakut-nakutin orang. Jurus-jurusnya udah kebaca. Penampakan kuntilanak dianggap kayak kejadian sehari-hari aja.

Maka dari itu, kayaknya Si Mbak ini ngadu ke temennya. Soalnya nggak seberapa lama, terjadi penampakan kuntilanak yang nggak bisa diantisipasi keluarga ini: muncul versi upgrade dari Si Mbak. Kami menyebutnya KUNTILANAK HANTU GOYANG dan ini sama sekali nggak lucu.

Yang pertama dikasih lihat wujudnya adalah anak Pakdhe yang kedua. Sebut saja namanya Cece. Cece ini lagi nonton teve di ruang tamu. Sendirian aja. Karena udah lama nggak ada penampakan kuntilanak Si Mbak, Cece ini yakin, seyakin-yakinnya, kalau Si Mbak udah bosen gangguin orang rumah. Jadi dia santuy nonton teve.

Saat itu masih jam 7 atau 8an, ada suara kresek-kresek di teras depan. Cece ini ngecilin volume. Sambil ngeliatin keluar lewat jendela, dia dikejutkan dengan penampakan Si Mbak versi upgrade. Dia berdiri pas di depan jendela, membelakangi Cece.

Cece udah berasa nggak enak dan mau masuk ke kamar aja. Tiba-tiba, kepalanya Si Mbak versi upgrade ini masuk keluar dari leher. Kayak copot tapi langsung kepasang lagi. Habis itu kepalanya digoyang-goyang kiri-kanan, lalu badannya juga ikutan meliuk-liuk, tangannya diangkat ke samping dan di lempar-lempar sampai panjang jatuh ke tanah.

Gerakannya Si Mbak versi upgrade ini nggak beraturan. Sambil goyang, dia terus cekikikan “Hihihihi….” Jenis cekikikan yang juga nempel banget di telinga. Badannya ikut memanjang ketika dia bergoyang kiri-kanan tadi. Cece ketakutan banget. Teve dimatikan, terus ngibrit ke kamar.

Sampai sekarang, penampakan kuntilanak versi upgrade ini masih sesekali terjadi. Dan buat Cece, meski nggak pernah lihat lagi, suara ketawa Si Mbak versi upgrade ini masih nempel saja sampai sekarang.

Jenis suara ketawa yang lama kelamaan bikin merinding juga….

BACA JUGA Ketika Kuntilanak Menyamar Jadi Santri di Pondok Pesantren atau tulisan-tulian lainnya yang bikin merinding di rubrik MALAM JUMAT.

Itulah tadi informasi dari daftar poker online mengenai Penampakan Kuntilanak Hantu Goyang di Rumah Pakdhe oleh - duniahantu.xyz dan sekianlah artikel dari kami duniahantu.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Saturday, July 18, 2020

Horor Sepeda Roda Tiga yang Keliling Ruangan Tanpa Ada Pengendaranya oleh - duniahantu.xyz

Halo sahabat selamat datang di website duniahantu.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Horor Sepeda Roda Tiga yang Keliling Ruangan Tanpa Ada Pengendaranya oleh - duniahantu.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

MOJOK.CO â€" Bayangkan kamu dan teman-temanmu lagi asyik ngobrol tiba-tiba ada sepeda roda tiga mengitari kalian. Dan di atas sepeda roda tiga itu tidak ada siapa-siapa. MAMAM.

Tiga belas tahun yang lalu, saya lupa bulannya, yang jelas itu awal tahun, saya diajak Bapak pergi ke suatu tempat. Katanya melihat madik-madik di sepeda roda tiga. Belakangan saya baru paham maksudnya adalah setan.

Ceritanya, Bapak ditelepon oleh seorang sahabat untuk datang ke rumah saudaranya. Ada sepeda roda tiga yang bisa jalan sendiri. Lalu ada yang suka mainan jendela rumah. Intinya, membuat rumah aman kembali.

“Cak, Kamis selo?”

“Kenopo, Cak?”

“Melu aku. Aku njaluk tulung banget. Biasa. Kayak begituan.”

“Iyo wes.”

Kata “biasa” adalah semacam kode. Terkadang, Bapak suka diminta tolong orang untuk membuat rumah aman dari “serangan yang tidak terlihat”. Karena keseringan, jika ada orang yang minta tolong, dan mengucapkan kata biasa, alm. Bapak sudah paham. Pasti ada sesuatu yang aneh.

Sebenarnya, Bapak tak pernah mempelajari ilmu mengusir setan macam kuntilanak atau genderuwo. Sebab, yang dipraktikkan pun, sama seperti ustaz-ustaz di film Suzanna. Membaca ayat kursi, sudah. Setannya ilang.

Apakah itu karena kekuatan doa? Atau kekuatan fisik Bapak? Atau tampang Bapak yang kayaknya lebih seram dari setannya? Ya ga tahu. Sepanjang pengetahuan saya, yang jelas selalu sukses.

Namun begitu, Bapak menolak disebut dukun. Sebab, beliau tak pernah memakai pakaian hitam dan dupa ketika melaksanakan ritual. Cukup datang di lokasi. Berdiri di tempat yang dikatakan seram, berdoa, dan selesai.

Dan itu juga dilakukan ketika melihat sepada roda tiga di sebuah rumah saudara sahabat. Ketika masuk, kok ya ternyata Bapak kenal dengan pemilik rumah. Alhasil, suasana yang seharusnya seram, malah menjadi menyenangkan. Seperti seorang teman lama bertemu kembali.

Meskipun begitu, Bapak sepertinya awas. Beliyo sering menoleh ke kiri. ke sebuah ruangan di mana sepeda roda tiga itu diparkir.

“Sudah tahu, ya, Cak?”

“Ya, nanti dilihat dulu aja.”

“Oh, iya, ini uborampenya, Cak.”

Bapak kaget. Di hadapan Bapak tersaji dua bungkus Surya, segelas kopi hitam, dan semangkuk rawon.

“Loh, buat apa ini?”

“Loh, katanya rikues ini.”

Bapak menoleh ke sahabatnya. Dia hanya tersenyum. Semacam nggateli. Pasti Bapak dimanfaatkan.

“Hehe, ini buatku kok, Mbak.”

“Owalah, diamput!”

Ocehannya belum berhenti, dari arah kiri, keluar sebuah sepeda roda tiga.  Sepeda roda tiga itu berjalan ke arah kami berempat. Selanjutnya, angin yang agak kencang masuk dari ventilasi pintu depan.

Jujur, ketika menulis artikel ini, saya merinding.

Saya kaget. Mak tratap. Bapak masih diam. Sahabatnya yang mencoba menyalakan sebatang rokok Surya, malah gagal.

“Ya, begini, Cak. Abis ini lebih heboh.” Wedhus, sepeda roda tiga yang jalan sendiri masih belum cukup.

Berturut-turut, lonceng di pintu depan berbunyi, penutup jendela membuka menutup berulang kali, dan sepeda roda tiga itu, ini jujur mengerikan, mengitari kami berempat tanpa ada pengendaranya.

Ya tuhan, ini lebih seram daripada Paranormal Activity, batin saya.

Saya melompat ke kursi. Tak sengaja, saya menyenggol rawon. Tumpah. Sahabat Bapak melongo. Sedangkan Mbaknya hanya bisa menatap dengan raut muka ketakutan.

“Itu kalau sepeda roda tiga dimasukkan lagi, nanti keluar lagi, Cak.”

“Ha, masak gitu, Cak?” Tanya sahabat Bapak.

“Nih, ya.” Dengan sigap, dia mengembalikan sepeda roda tiga ke tempat semula. Eh, nggak berapa lama, sepedanya keluar lagi. Waduh.

Kali ini Bapak yang mengembalikan sepeda roda tiga itu. Sembari memarkir, Bapak berdiri. Komat-kamit mulutnya yang sepertinya, sih, lagi baca ayat kursi. Lalu, kembali ke arah kami.

“Ini cuman usil, kok, Mbak. Mau tahu, gak?”

Mbak menganggukkan kepala.

“Cuman anak kecil. Semacam tuyul. Mungkin dulunya dia nggak pernah main sepeda-sepedaan. Makanya, kalau malem, dan nggak dimainkan oleh anak Mbak, dia mau pakai. Kalo dimasukkin lagi sepedanya, dia ngambek.”

“Wah, trus gimana, Cak?”

“Ga papa, kok. Katanya ini hari terakhir mau main sepeda-sepedaan. Semoga aja, sih, Mbak.”

Sembari mendengarkan paparan dari Bapak, saya, dalam hati, membaca ayat-ayat apa saja yang saya bisa. Kenapa? Lha jendelanya masih sering buka dan tutup.

“Nah, itu nggak papa, Pak?” Saya menunjuk jendela.

“Oh, nggak papa. Itu temannya cuman gelantungan. Nanti juga selesai.”

(((Gelantungan))) wat de hell!

Ya, memang. Sekitar 20 menit kemudian, jendelanya menutup lagi. Sedangkan sepeda roda tiga itu sudah masuk kembali ke tempat semula.

Sebelum pulang, Bapak hanya bilang kepada Mbak bahwa namanya makhluk halus itu kadang juga pengin mencoba benda buatan manusia. Tapi, karena dimensinya beda, suka menampakkan diri. Masalahnya, kalau sudah mencoba, biasanya malah keterusan. Itu yang repot.

Mbak mengucapkan terima kasih dengan berulang kali menundukkan badan. Saya dan Bapak pamit pulang. Lega rasanya.

Tiga minggu setelahnya, Mbak telepon Bapak.

“Cak, suwun, ya. Sekarang udah aman sepeda dan jendelanya, tapi….”

“Tapi, apa, Mbak?”

“Mobil di rumah suka nyala sendiri tiap jam 11 malam.”

MODYAR!

BACA JUGA Arwah Penasaran Korban Tumbal Meneror Satu Kampung atau tulisan uji nyali lainnya di rubrik MALAM JUMAT ena enaaa.

Itulah tadi informasi dari agen poker mengenai Horor Sepeda Roda Tiga yang Keliling Ruangan Tanpa Ada Pengendaranya oleh - duniahantu.xyz dan sekianlah artikel dari kami duniahantu.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Wednesday, July 15, 2020