Cerita Horor Genderuwo Suka Ngerokok di Atas Gedung Film oleh - duniahantu.xyz topglobal Tuesday, July 28, 2020 No Comment

Halo sahabat selamat datang di website duniahantu.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Cerita Horor Genderuwo Suka Ngerokok di Atas Gedung Film oleh - duniahantu.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

MOJOK.CO â€" Cerita horor ini terjadi di rumah saya. Sebuah rumah yang dahulu menjadi bagian dari gedung film. Sebuah gedung yang ternyata dihuni genderuwo yang suka merokok.

Cerita horor ini terjadi di rumah saya…

Jadi, rumah yang ditempati orang tua saya sekarang itu dulunya bagian dari gedung film. Lorong bagian samping yang sekarang jadi garasi dan ruang tamu dulunya tempat penjualan karcis. Sementara itu, terusan dapur dulunya kamar pengoperasian film, lalu halaman belakang merupakan teater utama tempat pemutaran film.

Gedung film tersebut adalah hasil usaha dari kakek bersama temannya. Setelah kakek meninggal dan tidak ada yang cakap meneruskan usaha itu, maka gedungnya ditutup.

Yang tersisa dari renovasi dan tidak berubah sampai sekarang cuma tembok tinggi tempat layar pemutaran film. Temboknya memang tinggi dan karena itu pula orang tua saya nggak pernah berniat merobohkannya. “Halah, buat pagar belakang rumah.” jawab orang tua saya.

Sebuah kesalahan, Bung dan Nona. Tembok itu jadi tempat favorit buat nongkrong genderuwo.

Jadi, di belakang tembok itu ada tanah kosong sekitar 2 sampai 3 meter yang pernah dibiarkan begitu saja. Tanah kosong itu lantas ditutup menggunakan pagar oleh tetangga dan dipinjam untuk memelihara ayam.

Kalau mau lewat dan naik ke atas tembok itu bakalan ribet banget. Udah ngelewatin pagar, lewatin ayam-ayam yang ceriwisnya minta ampun, dan terakhir naik tembok yang butuh lebih dari satu tangga.

Udah ya dari sini fix, orang nggak ada kerjaan pun bakal males naik-naik ke atas sana. Pemandangannya cuma pabrik. Kalau jatuh, mampus pula, malah jadi temennya genderuwo di sana.

Kejadian di cerita horor ini terjadi ketika saya masih kecil, mungkin SD kalau nggak awal-awal SMP. Pak Is (adiknya kakek yang paling bontot) sering main ke belakang rumah. Beliau suka menyapa tetangga di bagian belakang, ngopi atau main gaple sama pegawai dari Pengairan. Orangnya memang ramah.

Cuma, Pak Is ini biasanya ndablek. Kalau udah kelewat malam, dia males muter ke depan tapi pulang lewat pintu halaman belakang yang terletak di samping tembok layar tadi. Dia akan ngelewatin pekarangan tak berpenghuni yang isinya itu bambu kuning, bunga melati, kamboja, pohon kelapa, pisang, serta mangga.

Udah kayak tempat uji nyali, kan? Lokasi yang cocok banget jadi latar tempat cerita horor.

Kalau saya demitnya, Pak Is udah saya bikin klenger itu. Manusia lucknut, udah sendirian masih berani-beraninya masuk kandang enemy.

Oh iya sedikit tambahan, permukiman tempat kami tinggal memang “begitu”. Jadi yang depan menghadap jalan, sedangkan yang belakang menghadap sungai. Pintu halaman belakang tadi letaknya di sebelah kiri dan terpisah dari tembok layar, di depan pekarangan yang isinya udah saya jelasin tadi.

Kembali ke Pak Is….

Pak Is ini suatu kali berhenti bersikap sok asik dan sok pemberani setelah ketemu genderuwo yang sering nongki di atas tembok layar sambil rokoan.

Dari jauh, bentukannya kayak orang lagi ngerokok biasa. Karena sering menampakan diri setelah petang, jadi cuma keliatan rokok sama kepulan asapnya aja. Anak senja banget ini genderuwonya.

Kenapa saya bisa tau?

Sebenarnya saya nggak sengaja pernah ngeliat genderuwo itu Ketika buang sampah dan ketika nutup pintu belakang rumah. Selebihnya nggak pernah.

Sehabis maghrib, sebagai anak baik, kerjaan saya cuma rebahan aja. Cuma saat itu, saya udah ngira itu bukan manusia. Jadi ketika Pak Is ini bikin geger dengan cerita horor pertobatan dari “anak kelayapan” menjadi “anak rumahan”, saya sebenarnya udah tau alasannya.

Ternyata dugaan saya benar. Suatu kali ketika main ke rumah, Pak Is ini memberikan wejangan ke saya, “Dek, kalau pas ke belakang, sorean atau habis maghrib gitu, terus lihat ada yang kayak ngerokok di atas tembok, pintu rumah langsung ditutup aja, nggak usah main ke belakang. Di dalem rumah aja.”

“Ada yang ngerokok pak? Oh nggih, saya nggak main ke belakang kok.” jawab saya sambil pura-pura pasang wajah kaget.

“Ibu sama bapakmu dikasih tau juga, pokoknya kalau ada, mending masuk rumah aja. Ndak usah aneh-aneh.”

“Inggih, ada apa sih pak?”

Saya masih mencoba mencari tahu. Pikir saya kala itu, masa udah diapa-apain masih diem-diem aja. Speak up lah, gantian si demit dighibahin, kek. Lemah amat jadi human.

“Yang ndek situ jahat dek. Hati-hati aja,” suara Pak Is melemah.

Nah loh, maksud saya itu nggak gini bapak, ceritain jeleknya aja, bukan kasih tau kelakuannya gimana. Karena yakin cerita horor Pak Is bakal terlalu mengerikan, saya segerakan diri untuk masuk ke kamar. Malah orang tua saya yang jadi pendengarnya.

Tapi memang bejonya saya aja sih, saat kebelet dan hendak ke kamar mandi, ternyata Pak Is ini belum selesai bercerita dan saya malah mendengar bagian yang paling epik dari cerita horor ini. Simak baik-baik:

Pak Is mulai bagian paling epik dari cerita horor ini dengan:

“Hiii! Amit-amit. Jangan sampai kalian ngalamin!”

Lalu, dia melanjutkan:

“Badanku ini kayak dikasih beban, berat banget sampai nggak kuat berdiri, tiap jalan udah mau ambruk aja. Kok kaki ini, lho, tiba-tiba kayak nempel di tanah, nggak bisa gerak, tak angkat aja nggak bisa. Nafas itu udah mulai ngos-ngosan, sangking beratnya. Pikirku udah mati ini, pasti mati ini….”

“Berani nggak berani ya tetap tak paksakan buat nengok ta.”

“Lha kok pas tak lihat, yang di atas itu (hantunya), tiba-tiba ke bawah, kayak ngerangkak turun dari tembok, tapi cepet banget. Pas tiba ndek tanah, ukurannya ini jadi kayak separuhnya tembok, lebih mungkin. Guede hitem gitu. Wes gliyeng ae aku.”

“Ealah yang paling ngenes itu kok ya dia jalan ke arahku. Terus pas jalan itu, tanah berasa getar. Dem…dem…dem…modelannya kayak orang marah atau ngamuk gitu. Hmm, kapok, pikirku kapok tenan iki, Gusti. Pas ndek depanku dia ini kayak melotot sambil geram. Jaraknya itu paling tinggal selangkah aja. Aku udah bener-bener koploh banget waktu itu. Terus lha kok dia malah ngomong, suaranya gede banget.”

“Nyapo Koe Rene!”

Setelah Pak Is berhenti bicara, tiba-tiba aroma rokok kretek lewat di hidung saya….

BACA JUGA Setan Kepala Manusia yang Berjatuhan dari Pohon Sukun atau tulisan bau menyan lauinnya di rubrik MALAM JUMAT.

Itulah tadi informasi dari judi slot mengenai Cerita Horor Genderuwo Suka Ngerokok di Atas Gedung Film oleh - duniahantu.xyz dan sekianlah artikel dari kami duniahantu.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

by Jillur Rahman

Jillur Rahman is a Web designers. He enjoys to make blogger templates. He always try to make modern and 3D looking Templates. You can by his templates from Themeforest.

Follow him @ Twitter | Facebook | Google Plus

Tags:

No Comment